Cisarua | Sejumlah warga Pasanggrahan kecamatan Cisarua Bogor, aktif menyampaikan pandangan terkait penataan kawasan dan penanganan banjir yang kerap terjadi akibat terganggunya fungsi sodetan air hujan. Melalui percakapan di grup diskusi, Abdul Razzak serta Dudi Abdi Negara menekankan pentingnya penataan wilayah yang dimulai dari langkah-langkah kecil namun terarah.
Abdul Razzak warga Pesanggrahan mengusulkan agar masyarakat terlebih dahulu membangun pilot project ekonomi di Pafesta, terutama di sektor perdagangan. Ia menilai pendekatan bertahap lebih efektif untuk menciptakan perubahan.
“Kita buat dunia yang kecil dulu. Bagaimana kita buatkan percontohan ekonomi di Pafesta, ya bidang dagang dulu. Lalu memikirkan bagaimana orang mau datang, bicara pengelolaan, penanggulangan masalah, lalu melebar ke Pasanggrahan dan penataan Puncak,” ujarnya sembari menekankan pentingnya menolong sesama.



Sementara itu, warga Pesanggrahan lainnya Dudi Abdi Negara menyoroti persoalan ketertiban wilayah, khususnya keberadaan PKL di trotoar dan di atas sodetan air hujan yang selama ini menjadi penyebab kesemrawutan dan memicu banjir.
“Pasanggrahan harus rapi. Trotoar dikembalikan fungsinya sebagai tempat pejalan kaki. Saluran air harus steril dari sampah dan PKL,” tegas Dudi.
Ia menyampaikan bahwa PKL yang berdiri di atas sodetan air hujan telah terbukti menghambat aliran air, sehingga banjir kerap melanda kawasan Pasanggrahan. Dudi juga menyinggung foto kejadian banjir pada 8 April 2024 sebagai bukti.
Namun setelah pembongkaran PKL dan normalisasi sodetan oleh Bupati, kondisi mulai membaik.
“Alhamdulillah debit air yang tumpah ke jalan raya kini berkurang karena aliran dari Kebon Jae dan Cibulan sudah bisa masuk ke sodetan,” tambahnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa masih ada aliran air yang masuk ke Gang Nyi Geulis, meskipun tidak lagi menimbulkan banjir besar.

Menanggapi kondisi PKL, Abdul Razzak menegaskan bahwa penataan harus tetap mempertimbangkan aspek kemanusiaan.
“Segera kita pindahkan PKL yang ada ke Pafesta karena semua harus ada dua solusi. Mereka punya keluarga yang harus diberi makan, tapi masyarakat juga butuh ketertiban,” ujar Razzak.
Dudi menambahkan bahwa penataan harus mengedepankan kepentingan warga setempat.

“Semua orang butuh penghidupan. Tapi jangan korbankan warga Pasanggrahan demi kepentingan pribadi, golongan, atau kelompok tertentu.”
Ia juga menyoroti perubahan fungsi ruang terbuka hijau di Ruko Syakieb yang kini menjadi kios, sehingga bak kontrol air hujan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Warga berharap pemerintah desa serta masyarakat dapat terus mengawal penataan kawasan demi kenyamanan dan keselamatan bersama.
(Kang Nuy)
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















