SUKABUMI – Dampak musim kemarau panjang semakin dirasakan masyarakat Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi. Selain menyebabkan krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut juga memicu kekeringan di sejumlah lahan pertanian yang mengandalkan pasokan air hujan.
Menyusutnya debit air pada saluran irigasi membuat petani kesulitan mengairi sawah mereka, terutama tanaman padi yang membutuhkan pasokan air secara rutin. Akibatnya, banyak petani memilih tidak menanam padi pada musim tanam saat ini guna menghindari risiko gagal panen.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Cikembar, Muhammad Ali, mengatakan hampir seluruh desa di wilayah Cikembar terdampak kekeringan. Namun, petani yang masih menanam padi umumnya berada di kawasan yang memiliki sumber air yang diperkirakan masih mencukupi.

“Untuk Kecamatan Cikembar hampir semua desa mengalami kekeringan. Banyak petani yang tidak menanam, yang menanam hanya yang sumber airnya diperkirakan masih cukup. Sebagian besar lahan di Cikembar merupakan tadah hujan, sehingga ketika tidak turun hujan petani kesulitan mendapatkan pasokan air,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan irigasi juga masih menjadi kendala di beberapa wilayah hamparan pertanian, seperti di Desa Bojong yang sejak lama menghadapi keterbatasan jaringan pengairan.
Meski demikian, sejumlah kelompok tani mulai terbantu melalui program bantuan pemerintah yang direalisasikan secara bertahap. Tahun ini, Kecamatan Cikembar mendapatkan bantuan pembangunan sarana irigasi yang dinilai cukup membantu petani dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Muhammad Ali menjelaskan, pada tahap pertama bantuan telah diberikan kepada dua kelompok tani. Di Desa Sukamaju, pembangunan Irigasi Pompa (Irpom) telah mencapai sekitar 70 persen, sementara di Desa Bojong program Irigasi Perpipaan (Irpip) telah rampung dilaksanakan. Selain itu, program optimasi lahan juga telah terealisasi di Desa Kertaraharja.
Menurutnya, bantuan tersebut memberikan manfaat nyata bagi petani. Salah satunya dirasakan Kelompok Tani Muara Tani di Desa Sukamaju yang kini bisa memanfaatkan air Sungai Cimandiri melalui sistem pompa untuk mengairi lahan sawah yang berada di dataran lebih tinggi.
“Dengan bantuan ini petani sangat terbantu. Air dari Sungai Cimandiri dipompa ke atas sehingga petani bisa kembali menanam padi,” katanya.
Selain mengawal pembangunan infrastruktur irigasi, BPP Cikembar juga terus mendampingi pelaksanaan berbagai program pertanian, termasuk Program Perluasan Areal Sawah (PMAS) yang menjadi program nasional.
Di tengah keterbatasan air, petani juga mulai menyesuaikan pola tanam. Jika sebelumnya mayoritas menanam padi, kini sebagian petani beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, salah satunya ubi jalar.
Perubahan pola tanam tersebut menjadi langkah adaptasi yang dilakukan petani untuk tetap mempertahankan produktivitas lahan di tengah ancaman kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah Kecamatan Cikembar.
(Ade Saepul)
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










