Dramaga – Pemerintah Desa Dramaga, Kabupaten Bogor, mengambil langkah nyata untuk mengurangi ancaman banjir yang kerap melanda wilayahnya. Melalui program Samisade (Satu Miliar Satu Desa), desa ini membangun Tembok Penahan Tanah (TPT) serta melakukan normalisasi Sungai Cibeureum.
Program Samisade sendiri merupakan bantuan infrastruktur desa dari APBD Kabupaten Bogor, yang tahun ini digelontorkan kepada 416 desa di 40 kecamatan. Setiap desa menerima dana sebesar Rp1 miliar, dicairkan dalam dua tahap: Rp600 juta (60%) pada tahap pertama dan Rp400 juta (40%) pada tahap kedua.
Proyek Strategis yang Ditunggu Warga
Ketua Tim Pengelola Kegiatan (TPK) Desa Dramaga, Heri Suryana, menegaskan bahwa pembangunan TPT serta dua jembatan di kawasan Dramaga Tanjakan RT 003 RW 005 dan Dramaga Lebaksari RT 002 RW 002 merupakan proyek strategis yang sudah lama ditunggu masyarakat.
“Volume TPT mencapai 200 meter x 2,5 meter x 0,40 meter, ditambah dua jembatan baru masing-masing berukuran 10 x 3 meter dan 11 x 2 meter. Pengerjaan ditargetkan selesai dalam 90 hari, sementara normalisasi Sungai Cibeureum akan terus berlanjut hingga tuntas,” jelasnya.
Normalisasi Ditargetkan Tiga Tahun
Heri menambahkan, normalisasi Sungai Cibeureum tidak hanya dilakukan sekali, melainkan berlanjut selama tiga tahun dengan dukungan APBD Kabupaten Bogor.
“Sungai sepanjang 2 kilometer dengan lebar 6 meter akan dinormalisasi, mulai dari Blok Makam hingga belakang Bulog. Setelah rampung, kami yakin persoalan banjir musiman di Dramaga bisa diatasi,” tegasnya.
Sampah Jadi Ancaman Utama
Meski begitu, tantangan besar datang dari sampah rumah tangga yang menumpuk di aliran sungai. Jika diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), volumenya diperkirakan mencapai 100 truk penuh.
“Mulai dari ban bekas, kasur, seprei, hingga plastik, semua dibuang ke sungai. Ini bukti bahwa kesadaran masyarakat masih rendah, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan jelas memperparah banjir,” ungkap Heri.
Solusi Permanen untuk Blok Makam
Sebelumnya, pemerintah desa sempat membangun sodetan di Blok Makam dengan biaya Rp500 juta, namun tidak efektif akibat pendangkalan sungai. Kali ini, normalisasi dilakukan menggunakan alat berat (beko) untuk pengerukan lumpur.
“Kami optimis, setelah normalisasi, kawasan Blok Makam yang selama ini kerap terendam hujan deras tidak lagi banjir,” ujarnya.
Berdayakan Warga Lokal
Selain mencegah banjir dan longsor, proyek ini juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar. Melalui sistem swakelola, TPK Desa Dramaga melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja.
“Selain membangun infrastruktur, proyek ini juga membuka lapangan kerja baru bagi warga Dramaga,” pungkas Heri.
Reporter: Jemi Kurniawan
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















