Bogor — Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikan dr. Herman S., Sp.P., FISHR, dokter spesialis paru dari RS Siloam Bogor, dalam sebuah seminar kesehatan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis (PPTI) Kabupaten Bogor.
Kegiatan seminar tersebut digelar di Aula Auditorium Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor, Cibinong, dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, tenaga kesehatan, serta tamu undangan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Herman menjadi pemateri pertama dengan menyampaikan paparan mengenai gejala penyakit TBC, cara mendeteksinya sejak dini, langkah-langkah pencegahan, hingga upaya penanggulangan penyakit yang dikenal mematikan tersebut.
Menurut dr. Herman, TBC merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena sering kali tidak disadari penderitanya hingga berada pada stadium lanjut.
“TBC merupakan the silent killer. Banyak pasien yang datang dalam kondisi sudah parah karena gejalanya sering diabaikan,” ujarnya di hadapan para peserta seminar.
Paparan dr. Herman mendapat perhatian besar dari para tamu undangan. Mereka terlihat antusias menyimak materi yang disampaikan, terlebih saat memasuki sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dan penuh partisipasi.
Pada momentum tersebut, dr. Herman juga menerima plakat penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam edukasi dan penanggulangan TBC. Plakat diserahkan secara simbolis oleh Wawan, selaku Pembina PPTI Kabupaten Bogor.
Dalam pemaparannya, dr. Herman juga mengungkapkan data statistik yang mengkhawatirkan terkait kasus TBC di Indonesia.
“TBC di Indonesia sangat sering kita temui. Saat ini hampir satu juta orang terpapar TBC. Setiap 33 menit, ada orang Indonesia yang terinfeksi TB, dan angkanya meningkat hingga 17 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia kini menempati peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan jumlah penderita TBC terbanyak.
“Ini bukan prestasi yang membanggakan, justru sangat menyedihkan. Karena itu, bahaya TBC harus terus disosialisasikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, dr. Herman juga menyoroti munculnya kasus TBC resisten obat, yaitu kondisi di mana bakteri TBC tidak lagi mempan terhadap obat standar.
“Kasus TBC resisten obat membuat pengobatan menjadi jauh lebih sulit dan berisiko meningkatkan angka kematian. Selain itu, TBC juga menurunkan sistem imun tubuh, sehingga penderitanya sangat rentan terkena penyakit lain, salah satunya HIV/AIDS,” pungkas dr. Herman.
Melalui seminar ini, PPTI Kabupaten Bogor berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC semakin meningkat serta mendorong upaya pencegahan dan pengobatan sejak dini.
(Nurlaela)
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















