Palapatvnews | Jawa Timur, Mari kita mengenang wafatnya KH. M. Hasyim Asy’ari pada tanggal 7 Ramadhan 1445 H. Rais Akbar NU, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, yang akrab dipanggil Mbah Hasyim, wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H.
Saat ini, peristiwa wafatnya Mbah Hasyim telah berjalan selama 79 tahun. Namun, sayangnya sebagian warga Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin tampak melupakan momentum ini. Lebih banyak yang mengingat wafatnya cucu Mbah Hasyim, yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang juga merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia. Bahkan, setiap memperingati wafatnya Gus Dur, diadakan acara meriah.
Mengapa saat hari wafatnya Mbah Hasyim terasa sepi tanpa acara yang spesial? Beberapa orang berspekulasi bahwa ini merupakan hasil dari pandangan Mbah Hasyim yang menolak agar hari wafatnya diperingati secara khusus untuk menghindari kultus individu.
Mbah Hasyim lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.
Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, Raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.
Pada tanggal 3 Ramadhan 1366 H atau 21 Juli 1947 M, sekitar pukul 21.00 WIB, setelah mengimami shalat Tarawih, Mbah Hasyim duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu Muslimat. Tiba-tiba datang seorang utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Mbah Hasyim menemui utusan tersebut didampingi oleh Kiai Ghufron, yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.
Utusan tersebut menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Mbah Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan memberikan jawaban. Pesan tersebut berisi informasi bahwa Belanda sedang melakukan serangan militer besar-besaran di wilayah Jawa Timur. Mbah Hasyim juga diminta untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan agar tidak tertangkap oleh Belanda. Namun, Mbah Hasyim menolak tawaran tersebut.
Pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H, sekitar pukul 21.00 WIB, utusan kembali datang dengan membawa surat untuk Mbah Hasyim. Khususnya Bung Tomo memohon kepada Mbah Hasyim untuk mengeluarkan komando Jihad fi Sabilillah bagi umat Islam Indonesia. Namun, Mbah Hasyim meminta waktu semalam untuk memberikan jawaban. Namun, sebelum dapat memberikan jawaban, Mbah Hasyim mendapat laporan bahwa kota Singosari, Malang telah jatuh ke tangan Belanda.
Mendengar laporan tersebut, Mbah Hasyim tidak sadarkan diri dan pada pukul 03.00, tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, beliau dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Atas jasa-jasanya selama perang kemerdekaan melawan Belanda, terutama fatwa-fatwanya yang penting, Presiden Soekarno menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden No. 249/1964.
Kepergian Mbah Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tetapi juga bagi warga NU, masyarakat sekitar, dan bangsa Indonesia. Mari kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada Hadratussyaikh, semoga amal baiknya diterima oleh-nya dan kita dapat meneruskan eksistensi pesantren dan khidmat NU sesuai dengan cita-cita di masa awal pendiriannya.
Reporter: Fahrorozi
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















