Riau – Tanggal 31 Januari 2026 kembali mengingatkan kita pada kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang sejak awal berdirinya meneguhkan peran sebagai penjaga agama, bangsa, dan moral publik. Peringatan ini bukan semata perayaan sejarah, melainkan momentum refleksi atas tantangan kepemimpinan di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap berbagai kasus aktual.
Salah satu yang menyita perhatian adalah polemik hukum yang menyeret nama Hogi Minaya dan memantik atensi DPR terhadap kinerja aparat kepolisian. Terlepas dari proses hukum yang berjalan, kasus tersebut mencerminkan tuntutan masyarakat yang semakin kuat terhadap kepemimpinan yang bersih, transparan, dan berakhlak.
Di sinilah relevansi nilai-nilai NU terasa nyata. NU lahir dari semangat amanah, kejujuran, dan khidmah. Para ulama pendirinya menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kekuasaan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil…” (QS. An-Nisa: 58).
Ayat ini menjadi fondasi moral bahwa setiap pemimpin, baik di tingkat negara maupun dalam lingkup komunitas kecil, wajib menjunjung tinggi amanah dan keadilan.
Kasus-kasus viral yang mencoreng wajah kepemimpinan seharusnya menjadi cermin, bukan sekadar tontonan. Kekecewaan publik adalah wajar, namun yang lebih penting adalah menjadikannya pelajaran bersama: kepemimpinan tanpa akhlak akan kehilangan legitimasi dan kepercayaan.
NU, melalui tradisi pesantren, majelis ilmu, dan dzikir nya, terus mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani, bukan dilayani; membimbing, bukan menyesatkan; serta menegakkan keadilan, bukan mempermainkan hukum. Nilai-nilai inilah yang membuat NU tetap relevan lintas zaman.
Hari Lahir NU tahun ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali etika kepemimpinan. Seruan ini bukan hanya ditujukan kepada aparat negara, tetapi juga kepada setiap individu yang memegang amanah, sekecil apa pun. Dosen, guru, pengusaha, pejabat publik, bahkan orang tua dalam keluarga—semuanya adalah pemimpin yang dituntut menjaga kepercayaan.
Di tengah hiruk-pikuk isu viral dan krisis keteladanan, NU hadir sebagai pengingat bahwa kepemimpinan adalah cahaya. Cahaya itu akan meredup jika dikhianati, namun akan bersinar terang bila dijaga dengan iman dan akhlak.
Maka, mari jadikan Hari Lahir NU sebagai panggilan untuk memperbaiki diri, memperkuat amanah, dan meneguhkan kepemimpinan yang berakar pada nilai agama dan kebangsaan. NU lahir untuk meneguhkan amanah. Amanah adalah cahaya kepemimpinan, dan cahaya itu harus terus dijaga agar bangsa ini tidak kehilangan arah.
Sumber/Penulis:
Muhammad Bakri, S.Ag., C.PS, Ketua Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu Rokan Hilir juga Alumni Pondok Pesantren Dar Aswaja Rokan Hilir.
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















