CIAWI — Hampir sebelas tahun berlalu. Selama kurun waktu itu, Kusmanto, pria paruh baya asal Surakarta, tinggal bersama istri tercinta dan keempat anaknya di sebuah kontrakan kecil di kawasan Ciawi, Kabupaten Bogor. Ruangannya tidak luas, fasilitasnya sederhana, namun di sanalah mereka membangun harapan, melewati masa sulit, dan tumbuh sebagai keluarga yang tak pernah lelah saling menguatkan.
Dari Kolong Tol Menuju Sebuah Atap
Perjalanan keluarga ini tidaklah mudah. Sebelum akhirnya menempati kontrakan tersebut, mereka pernah berbulan-bulan bertahan hidup di kolong jembatan tol Ciawi. Di bawah deru kendaraan yang melintas siang dan malam, tanpa perlindungan yang layak, mereka tidak menyerah. Ketika akhirnya mereka memiliki tempat berteduh — sekecil apa pun itu — mereka menyambutnya dengan syukur yang luar biasa. Hampir sebelas tahun telah berlalu sejak saat itu, dan kontrakan sederhana itu tetap menjadi saksi perjuangan mereka setiap hari.
Mengais Rezeki Meski Tubuh Tak Selalu Prima
Setiap pagi, Kusmanto tetap melangkah keluar rumah. Sebagai pemulung, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mengais rezeki. Penghasilannya tidak menentu. Jika sedang beruntung, ia bisa membawa pulang sekitar Rp40.000. Namun di hari-hari lain, angka itu bisa jauh lebih kecil.
Yang jarang diketahui, perjuangannya dilakukan di tengah kondisi kesehatan yang juga menuntut pengorbanan. Hingga saat ini, Kusmanto rutin berobat jalan — ia divonis memiliki gangguan jantung. Meski kerap merasa lelah dan tubuhnya tak selalu dalam kondisi prima, ia tak pernah berhenti berangkat. Baginya, beristirahat bukanlah pilihan selagi anak-anak masih menanti rezeki darinya.
Sakit Bukan Alasan untuk Berhenti Berjuang
Di samping Kusmanto, istrinya pun tak kalah tangguh. Beberapa tahun lalu, wanita ini didiagnosis menderita batu empedu. Dua tahun silam ia menjalani operasi laser, namun proses pemulihannya belum sepenuhnya tuntas. Ia masih membutuhkan tongkat untuk berjalan. Namun dengan semangat yang menggetarkan hati, setiap hari ia berkeliling menawarkan roti. Jika dagangannya habis terjual, ia meraup keuntungan sekitar Rp30.000 — uang yang sangat berarti untuk menutupi kebutuhan makan keluarga.
“Sering saya katakan, istirahatlah sebentar. Tapi beliau selalu bilang, selama masih bisa berdiri, mau ikut berjuang bersama. Sudah hampir sebelas tahun kami di kontrakan ini. Kadang orang bilang kami belum maju. Tapi bagi kami, tetap bersama, tetap sehat, tetap bisa makan — itu kemajuan yang luar biasa. Saya tahu kondisi jantung saya. Beliau tahu badannya belum pulih. Justru karena kami saling tahu kondisi masing-masing, kami makin tidak ingin saling meninggalkan,” ujar Kusmanto dengan mata yang tenang namun teguh.
Belum Pernah Menerima Bantuan Sosial
Kondisi ekonomi keluarga ini terbilang rendah. Padahal, dengan kondisi ekonomi maupun kesehatan yang mereka alami, mereka sangat layak menerima bantuan sosial. Namun hingga saat ini, keluarga tersebut belum pernah menerima Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
“Selama ini kami berpikir, yang penting kami masih kuat bekerja. Kalau ada rezeki bantuan, syukur. Kalau tidak, kami tidak menyerah. Kerja halal yang penting, anak-anak bisa sekolah, kami bisa makan sederhana. Cukup bagi kami,” tambahnya.
Makna Sejati Rumah dan Kebersamaan
Hampir sebelas tahun di kontrakan kecil, melewati masa tinggal di kolong tol, berjuang dengan kondisi kesehatan masing-masing — kisah keluarga ini mengajarkan kita sesuatu yang berharga: rumah bukan diukur dari luasnya bangunan, melainkan dari kehangatan yang tak pernah padam di dalamnya. Rezeki bukan hanya soal uang, melainkan kesehatan yang masih dimiliki, pasangan yang tak pernah berpaling saat sakit maupun sehat, dan anak-anak yang menjadi alasan terkuat untuk terus melangkah.
Semoga kesehatan Kusmanto senantiasa terjaga dan membaik, semoga sang istri semakin pulih dari sakitnya, semoga keempat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berbakti, dan semoga perjuangan keluarga sederhana ini senantiasa diiringi berkah. Kisah mereka adalah pengingat: tidak ada beban yang terlalu berat jika dipikul bersama, dan tidak ada mimpi yang terlalu besar jika diusahakan dengan ketulusan.
(Awaludin)
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










