Tenjolaya, Kabupaten Bogor – Desa Wisata Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan masuk dalam 30 Besar Desa Wisata Terbaik Nasional pada ajang Wonderful Indonesia Award 2026 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.
Capaian ini merupakan kelanjutan dari program SWJ-ITDMA Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Setelah lolos 15 besar desa wisata terbaik se-Jawa Barat, Gunung Malang melaju ke 10 besar provinsi dan akhirnya mewakili Jawa Barat di tingkat nasional.
Pendampingan Berkelanjutan
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan Dinas Pariwisata dan Ekraf Kabupaten Bogor serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Pendampingan intensif dilakukan mulai dari pembinaan kelembagaan, peningkatan kapasitas SDM, kurasi paket wisata, hingga penyusunan profil desa wisata.
Pengelola Desa Wisata Gunung Malang, Teddy Saepudin, menegaskan bahwa kekuatan utama desa bukanlah fasilitas mewah, melainkan tradisi dan kearifan lokal.
“Kami hanyalah desa kecil. Potensi kami adalah menjaga budaya dan tradisi. Itulah daya tarik yang kami tawarkan,” ujarnya.
Potensi Daya Tarik
Gunung Malang menawarkan konsep wisata berbasis masyarakat dengan filosofi living culture. Wisatawan disambut keramahan warga yang menjunjung falsafah Someah Hade Ka Semah.
Daya tarik utama meliputi:
– Wisata Alam: panorama pegunungan asri, udara sejuk, dan hamparan hijau alami.
– Wisata Budaya: tradisi leluhur seperti Ngabungbang dan Ngalokat Cai.
– Wisata Edukasi: aktivitas petani dan pengrajin bambu sebagai atraksi otentik.
“Kami tidak merubah petani menjadi pemandu wisata. Kehidupan petani itulah wisatanya. Pengrajin bambu tetap menganyam, dan proses itu menjadi tontonan,” tambah Teddy.
Dampak Ekonomi Nyata
Prestasi ini juga membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Homestay mulai terisi, UMKM lokal seperti penjual olahan singkong dan kopi khas Sunda meningkat omzetnya, serta pengrajin bambu kini mendapat dua sumber pendapatan: dari atraksi edukasi dan penjualan produk.
“Wisatawan membayar untuk belajar menganyam, sekaligus membeli hasil kerajinan. Pariwisata berbasis masyarakat benar-benar menyejahterakan tanpa meninggalkan jati diri desa,” pungkas Teddy. (Red)
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.










