ROKAN HILIR, (7/06/2026). – Himpunan Pemuda Mahasiswa Melayu HPMM Kabupaten Rokan Hilir menyampaikan ajakan tegas kepada seluruh generasi muda untuk berani “tampil untuk adat”. Menurut Ketua HPMM, menjaga adat, bahasa, dan tanah ulayat bukan lagi pilihan, melainkan tanggung jawab moral setiap anak jantan Melayu.
Ketua HPMM Rokan Hilir, Muhammad Bakri, S.Ag., C.PS., menyampaikan bahwa selama ini panggung adat lebih banyak diisi Datuk dan orang tua. Padahal estafet menjaga marwah Melayu 30 tahun ke depan ada di tangan pemuda hari ini.
“Tampil untuk adat itu artinya tiga hal. Pertama, berani duduk belajar. Datang ke Balai Adat, buka kitab adat, dengar petuah Datuk. Kedua, berani tampil. Tanya orang, cari tau terombo asal usul suku, Pakai baju Melayu, berpantun, jadi kreator budaya. Ketiga, berani menjaga. Jaga tanah ulayat, jaga sungai, jaga hutan. Petuah Melayu sudah ingatkan: ‘Siapa mengenang anak cucunya, bumi yang kaya takkan dirusaknya’. Pemuda yang berpikiran panjang pasti pantang merusak alam,” ujar Muhammad Bakri, Senin 4 Mei 2026.
Ia menyoroti mindset pemuda yang sering menganggap adat “ribet dan kuno”. Padahal falsafah Melayu “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” dan “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” justru jadi solusi hidup tertib di tengah zaman yang serba cepat dan individualis.
“Adat ngajar kita musyawarah, hormat ke orang tua, tanggung jawab ke kampung. Di era semua mau instan, nilai adat justru obatnya. Jangan takut belajar adat. Adat itu bikin kita berwibawa, bukan ketinggalan zaman. Tegak bukan sombong, sanak,” jelasnya.
Menyikapi perkembangan teknologi, Muhammad Bakri mengajak pemuda menjadikan HP sebagai “Balai Adat Digital”. HPMM Rokan Hilir mendorong pemuda membuat konten kreatif: pantun, sejarah Melayu, cara pakai tengkolok, makna ukir Corak Insang.
“Zaman Datuk dulu musyawarah di Balai Adat. Sekarang bisa kita gunakan Instagram, TikTok, YouTube. Sayang kalau ruang seluas ini kosong dari konten Melayu. Satu video 15 detik tentang cara hormat ke orang tua versi Melayu bisa menyentuh ribuan pemuda. Itu dakwah budaya paling efektif. Digitalkan adat, jangan adatkan digital,” tegasnya.
Untuk pemuda perantauan, ia berpesan agar menjaga nama baik Melayu di mana pun berada. “Mahasiswa Rokan Hilir yang kuliah di luar daerah, kalian itu wajah Melayu. Cara bicara, cara hormat, cara pakai baju Melayu, itu cermin adat kita. Jangan sampai orang bilang ‘anak Melayu kok kasar’. Jaga adab di mana pun jaga marwah adat,” pesannya.
Muhammad Bakri menutup ajakannya dengan langkah konkret yang bisa langsung dilakukan pemuda: biasakan bahasa Melayu “sanak, ambo, denai” dalam obrolan sehari-hari, pakai baju kurung-tengkolok tiap Jumat, ikut pemetaan ulayat bersama lembaga adat, dan dukung UMKM kawan yang jual batik atau kuliner Melayu seperti bubur lambuk dan gulai patin.
“Kalau bukan kita yang tampil jaga adat hari ini, anak cucu kita nanti mau belajar ke siapa? Jangan sampai kita tercatat sebagai generasi yang mematikan adat. Pemuda Rokan Hilir, panggung adat sudah menunggu. Waktunya kita naik,” tutupnya.
(RZ)
