Kabupaten Sukabumi – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Jaya Mandiri (TJM) Kabupaten Sukabumi terus berupaya menjaga kualitas air baku agar tetap aman dan layak konsumsi bagi masyarakat, meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem dan kondisi teknis yang kompleks.
Kualitas air baku yang dikelola Perumdam TJM diketahui dapat bervariasi tergantung pada musim, kondisi hidrologi, serta aktivitas masyarakat di sekitar sumber air. Namun demikian, air baku tersebut masih berada dalam batas aman sesuai regulasi yang berlaku. Untuk itu, proses pengolahan lanjutan menjadi sangat penting agar air yang disalurkan ke pelanggan tetap memenuhi standar mutu air minum.
Kepala Bagian Produksi Perumdam TJM Kabupaten Sukabumi, Ida Darmawati, A.Md, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerapkan berbagai langkah strategis guna menjaga kualitas air.
“Langkah-langkah yang kami lakukan antara lain pengurasan intake secara rutin untuk mencegah penumpukan lumpur dan sedimen, pembersihan bak sedimentasi dan filtrasi secara berkala, serta penyesuaian dosis bahan kimia seperti koagulan dan flocculant sesuai kondisi air baku,” ujar Ida, Minggu (20/10/2025).
Selain itu, Perumdam TJM juga melakukan pemantauan kualitas air melalui laboratorium dan sistem SCADA, serta bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan LABKESDA untuk pengawasan eksternal.
“Pemeliharaan jaringan distribusi juga rutin dilakukan agar air tetap bersih hingga ke pelanggan. Kami juga terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di sekitar sumber air,” tambahnya.
Salah satu inovasi unggulan yang telah diterapkan Perumdam TJM adalah penggunaan sistem SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), yang memungkinkan pemantauan dan pengendalian proses pengolahan air secara real-time. Teknologi ini telah diimplementasikan di beberapa Instalasi Pengolahan Air (IPA), seperti IPA Cibadak Caringin, IPA Cikembar, IPA Palabuhanratu, dan IPA Pasir Bandera Cisolok.
Meski demikian, Ida tidak menampik adanya sejumlah kendala yang masih dihadapi di lapangan. Di antaranya kekeruhan air baku saat musim hujan, penyumbatan pada intake dan saringan akibat sampah serta lumpur, penurunan debit air saat kemarau, pencemaran dari aktivitas warga, hingga kerusakan jaringan distribusi seperti kebocoran pipa dan valve rusak.
“Bahkan, gangguan alam seperti longsor dan gempa juga berpotensi merusak infrastruktur air. Namun kami tetap berkomitmen menjaga kualitas air baku dan pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Reporter: Nurlaela
Eksplorasi konten lain dari Palapatvnews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















